Manusia adalah makhluk Allah yang secara khusus dianugerahi akal. Manusia juga makhluk ruhiyah yang secara fitrah memiliki/diberikan anugerah untuk senantiasa cenderung kepada kebenaran. Sebagai konsekuensi anugerah yang diberikan itu, maka manusia akan senantiasa dihadapkan pada permasalahan-permasalahan untuk dipikirkan dan ditemukan jawabannya. Jadi tujuan utama adanya ruh dan fungsi akal adalah mencari kebenaran yang hakiki/kebenaran Tuhan/kebenaran ilahiyah. Puncak dari diperolehnya kebenaran yang hakiki adalah suatu kebijaksanaan (“wisdom”).

Aspek-aspek dalam filsafat:

  1. Ontologi: Terkait dengan “apa” hakikat sesungguhnya obyek/pengetahuan tersebut
  2. Epistemologi: Terkait dengan “bagaimana” cara dapat diperolehnya obyek/pengetahuan tersebut.
  3. Aksiologi: Terkait dengan “manfaat” dari obyek/pengetahuan tersebut

 

Ontologi Ilmu

Proses berpikir/mencari/mempelajari/mengerti kebenaran ini merupakan proses yang terus menerus dilakukan sehingga diperoleh kebenaran yang hakiki. Hasil dari setiap usaha dalam proses mencari kebenaran ini akan diperoleh pengetahuan. Seperangkat pengetahuan dalam bidang tertentu yang disusun secara sistematis akan membentuk ilmu pengetahuan.

 

Epistemologi Ilmu

Cara-cara atau metode taat kaidah yang digunakan dalam memperoleh ilmu pengetahuan ini yang disebut sebagai penelitian (riset) –berasal dari bahasa inggris research yang berarti mencari kembali- oleh karena itu, proses penelitian atau riset adalah proses pencarian kebenaran dalam satu bidang ilmu pengetahuan tertentu yang dilakukan terus-menerus, mencari dan mencari kembali untuk memperoleh pengetahuan yang meyakinkan, valid, semakin dalam ataupun memperoleh pengetahuan baru.

Ilmu mengkaji kebenaran dengan bukti logika atau jalan pikiran manusia. Batas kajian ilmu adalah fakta. Pengetahuan dapat berkembang menjadi ilmu apabila memenuhi kriteria:

  1. Ada obyek kajian yang tertentu
  2. Ada metode pendekatan yang tertentu
  3. Bersifat universal (diakui secara umum)

August Comte membagi 3 tingkat perkembangan ilmu pengetahuan:

  1. Religius, keterangan religious dijadikan postulat/dalil ilmiah sehingga ilmu merupakan deduksi/penjabaran dari ajaran religi.
  2. Metafisik, manusia mulai berspekulasi, berasumsi, membuat hipotesis-hipotesis tentang metafisika atau keberadaan wujud. System ilmu pengetahuan dikembangkan berdasar postulat metafisika (hipotetico)
  3. Positif, merupakan tahap pengetahuan ilmiah dimana asas-asas yang dipergunakan diuji secara positif dalam proses verifikasi yang objektif.

Tahap perkembangan ilmu pengetahuan ini melahirkan metode deducto-hipotetico-verifikatif. Metode inilah yang saat ini dikembangkan menjadi Metode Ilmiah (Scientific Method). Metode ilmiah ini menjadi landasan epistemologis dalam pengembangan ilmu pengetahuan saat ini.

 

Metode Ilmiah (Scientific method)

Prinsip-prinsip dalam metode ilmiah:

  1. Merupakan proses logis dan pendekatan yang sistematik.
  2. Merupakan cara-cara penggunaan bukti (evidence) yang terorganisasi untuk mempelajari alam.
  3. Seperangkat teknik untuk mengintegrasikan fenomena-fenomena dalam rangka memperoleh pengetahuan baru, melakukan pembetulan dan mengintegrasikan dengan pengetahuan sebelumnya.
  4. Berdasar pada pengumpulan data pengamatan (observable), data empiris, bukti-bukti terukur, prinsip-prinsip pemikiran khusus, formulasi dan pengujian hipotesis .

Dalam metode ilmiah ada kerangka konsep dan kerangka operasional.

  1. Kerangka konsep merupakan konsep-konsep yang digunakan dalam memahami masalah dalam rangka untuk mencari penyelesaian masalah.
  2. Kerangka operasional merupakan kerangka rencana pemikiran yang dibuat dalam rangka pembuktian masalah.

Tahap metode ilmiah:

  1. Membuat pengamatan (observasi)
  2. Mendefinisikan masalah
  3. Penelitian lebih lanjut tentang masalah yang sudah didefinisikan
  4. Membuat pernyataan hipotesis
  5. Eksperimen untuk menguji hipotesis
  6. Pengumpulan dan pencatatan data
  7. Analisa data
  8. Penarikan kesimpulan
  9. Penetapan keterbatasan
  10. Melaporkan hasil penelitian.

 

Aksiologi Ilmu

Ilmu dan pengembangan ilmu haruslah membawa manfaat bagi manusia, kehidupan dan lingkungan. Bagi manusia dan kemanusiaan ilmu haruslah dapat membawa manusia menemukan jati dirinya, fitrah ruhiyahnya, arah kembali pulang, menuju kepada Penciptanya. Bagi pengembangan ilmu itu sendiri, hendaknya ilmu akan dapat terus menemukan pondasi fakta dan kebenaran yang hakiki tentang suatu fenomena. Bagi kehidupan dan lingkungan, ilmu haruslah menbawa manfaat bagi menjadi lebih baiknya kedaan kehidupan manusia dan makhluq lainnya, sesuai tugas manusia di bumi sebagai khalifah fil arld.

 

Filsafat Ilmu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *